Perjalanan, Pengalaman, & Pemahaman Permainan Terindah

  • Niac Mitra vs Arsenal 2-0: Gara-gara Udara Panas dan Lapangan Buruk?

    Niac Mitra mengukir kenangan indah di depan ribuan penggemarnya di Stadion Gelora 10 November ketika sore kemarin agak di luar dugaan menaklukkan klub kenamaan Inggris, Arsenal, dengan kemenangan mutlak 2-0.

  • Mino Raiola, Antara Mulut Besar Donald Trump dan Keberingasan Al Capone

    Dalam rimba transfer internasional dunia, ketika akan terjadi deal antara pemain, agennya, dan wakil klub, biasanya pertemuan terjadi di restoran mahal tertutup, lobi hotel mewah bahkan di kamar tertutup. Namun khusus kepada orang yang satu ini sulit terlaksana.

  • Stan Kroenke: Kapitalis Pemuja Wenger

    Sosoknya kaku, irit bicara, pelit senyum apalagi sampai tertawa terpingkal-pingkal. Tak salah kalau pers Inggris menjulukinya the silent man atau si pendiam. Sorot matanya tajam, gerak-geriknya tanpa ekspresi, pikirannya selalu fokus tanda suka berpikir sesuatu yang menarik minat. Suasana hatinya dingin, barangkali sedingin darahnya, dan kelihatannya orang ini rada susah untuk dijadikan teman atau sahabat.

  • Angela Merkel: Wanita Terkuat di Dunia

    Kiprah nyonya besar yang satu ini tak sampai begitu. Tapi pelampiasannya unik. Satu gerakan moral Angela Dorothea Merkel, Kanselir Jerman sejak 2005, yang jadi hobi dan habit sebab sering dilakukan adalah nyelonong ke kamar ganti pemain!

  • Roger Daltrey: Semangat Highbury Highs

    Malam hari penghujung April 2006, Roger Harry Daltrey tak kuasa menahan kenangan masa lalu. Memori kejayaan bersama Pete Townshend, John Entwistle dan Keith Moon saat mengusung aliran progressive rock lewat band The Who di era 1970-an, kerap kali campur aduk dengan era keemasan The Old Double.

  • Persija, Inspirasi dari Soempah Pemoeda

    Berkat sejarahnya, dominasi Persija di blantika nasional tak pernah lekang dimakan waktu. Catatan fenomenal juga ditorehkan klub berlambang Monas sebagai satu-satunya klub dengan rekor tak pernah terkena degradasi sejak debut pada 1931.

  • Asal Muasal Tiqui-Taca, Sepak Bola Bergaya Geometri

    Medio 1980-an, ketika masih masa anak-anak, kata-kata yang kini dikenal dengan tiki-taka sebenarnya sudah sering dihebuskan para komentator Indonesia dalam beberapa acara siaran langsung Piala Dunia atau Piala Toyota di TVRI. Satu yang paling rajin menurut saya adalah Eddy Sofyan. Dia suka menyebutnya dengan ‘tik-tak’ yang berkonotasi umpan-umpan pendek, permainan tek-tok layaknya karambol atau ding dong.

Tampilkan postingan dengan label Dari Dekat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dari Dekat. Tampilkan semua postingan

Hristo Stoichkov (5-habis): Dicalonkan Menjadi Presiden

Buat rakyat Bulgaria, kehebatan Hitzo boleh jadi akan mengubur nama besar Gheorghi 'Gundi' Asparuchkov, bintang sepak bola mereka di tahun 1960-an, mulai sekarang ini hingga ke depan. Waktu jua yang bakal membuktikannya.

Hristo Stoichkov: Dicalonkan Menjadi Presiden

Kalau legenda ini berjasa memperkenalkan negaranya di kancah sepak bola internasional, maka Hitzo lebih hebat lagi, yaitu orang yang dianggap dapat mengubah sejarah bangsa Bulgaria, melalui sepak bola tentunya. Bagi dunia luar pun, orang lebih mengenal nama Hristo Stoichkov ketimbang Zhelyu Zhelev, Presiden Bulgaria.

Semula Bulgaria adalah negara yang tidak begitu dikenal oleh dunia luar, seperti halnya negara-negara di semenanjung Balkan lainnya. Orang hanya tahu bahwa Bulgaria adalah sebuah negara yang berpaham komunis. Kalau soal olah raga, negara yang penduduknya merupakan nomor satu di dunia ini hanya dikenal lewat senam atau atletik seperti kebanyakan negara Eropa Timur lainnya. Itu saja.

Adalah gerakan politik Glasnost dan Perestroika yang diembuskan oleh Mikhail Gorbachev - kemudian menjadi Presiden Rusia pertama awal 1990-an - yang ikut mempengaruhi karier Hitzo. Demokrasi telah mengubah perikehidupan rakyat, termasuk para pemain bola berbakat yang pada akhirnya bisa bermain di klub-klub besar di negara Eropa Barat. Sebelum angin pembaruan datang, hal itu sangat musykil dilakukan. Kekhawatiran pemimpin saat itu asalah ketakutan akan banyaknya orang-orang berprestasi lari ke luar negeri.

Untuk hal ini Hitzo pernah pula merasakannya ketika akan ditransfer ke Barcelona. Pada awalnya kepergian Hitzo sempat dihambat oleh Presiden dan Sekjen Partai Komunis Bulgaria. "Tidak pernah saya sesulit itu. Untuk mendapatkan Hitzo saya harus membujuk mereka beberapa kali agar melepaskannya," kenang utusan Barcelona, Josep Maria Minguella.

Dianggap Dewa

Ketika tim nasional Bulgaria tiba kembali di Tanah Air setelah mengikuti Piala Dunia 1994, ratusan ribu warga Sofia turun ke jalan menyambut mereka sambil berteriak histeris. 
"Stara Hitzo! Stara Hitzo!" sahut masyarakat bertalu-talu.

Hristo Stoichkov: Dicalonkan Menjadi Presiden

Atau ucapan puitis, "Oh Hitzo pahlawanku, kami cinta padamu!" Yang lebih konyol, mereka juga meneriakkan kalimat bombastis, "Hitzo, kau adalah dewa kami!" Mereka berkumpul di jalanan yang menghubungkan bandara dan pusat kota Sofia.

Saat itu hari Rabu tanggal 20 Juli 1994. Keramaian bisa disamakan saat mereka merayakan tumbangnya komunis. Seluruh pemain diarak keliling kota dengan menggunakan Limousine buatan Rusia, dan puncaknya mereka dijamu oleh konser musik di Stadion Nasional Sofia.

Di sini mereka dielu-elukan lagi oleh massa yang menyemut. Nama Hitzo dan pelatih nasional Dimitar Penev yang paling sering disebut-sebut oleh penduduk. Banyak penduduk yang membawa poster keduanya.

Ini wajar karena sebelumnya prestasi Bulgaria di Piala Dunia nir-prestasi dan selalu dianggap penggembira. Semuanya berubah berkat peran sentral Hitzo-Penev. Kemenangan pertama kali Bulgaria di pesta sepak bola sejagat itu dicetak di Piala Dunia lalu, saat mereka menumbangkan Yunani 4-0.

Sensasi berikutnya dibukukan tatkala melabrak Argentina 2-0 di penyisihan grup, dan mengalahkan Jerman 2-1 di perempatfinal. Semifinal pun berhasil direngkuh, walau di sini langkah Bulgaria dihentikan Italia 1-2. Inilah yang dimaksud dengan perubahan drastis sejarah bangsa Bulgaria yang dilakukan Hitzo.

Hristo Stoichkov: Dicalonkan Menjadi Presiden

Penghargaan Tertinggi

Rakyat tak mau tahu bahwa Iordan Lechkov yang seharusnya menjadi bintang, karena dialah sebenarnya yang ke memastikan tempat di semifinal ketika mencetak gol menentukan atas Jerman. Tapi rakyat sudah kadung basah kecintaannya pada Hitzo, sehingga melupakan jasa Lechkov.

"Anda telah memberi inspirasi yang membanggakan pada rakyat Bulgaria. Kesan positif atas negeri ini menjadi baik di luar negeri. Hal ini sama sekali tidak akan pernah bisa dilakukan oleh politisi atau diplomat kita," kata Presiden Zheyev, yang langsung menyambut rombongan tim di bandara.

Beberapa hari kemudian, masih dalam suasana gembira, beberapa pengusaha lokal memberikan sebuah sedan Mercedes Benz kepada setiap pemain. Tidak ketinggalan pemerintah sepakat untuk menyematkan Bintang Platina kepada setiap anggota tim, suatu penghargaan tertinggi bagi orang yang berjasa pada negara. Bahkan banyak masyarakat atau organisasi mengusulkan pada parlemen agar Hitzo dicalonkan sebagai presiden Bulgaria.
Hristo Stoichkov: Dicalonkan Menjadi Presiden

Bagi Hitzo hal ini mungkin suatu hal yang dianggap basa-basi saja. Seolah-olah mereka lupa tentang impiannya sejak kecil, tidak mau menjadi politisi kecuali pemain bola. Hitzo telah memiliki kehidupan sendiri, yaitu sepak bola. "Saya dalam sepak bola ibarat seorang yang kelaparan. Orang dalam keadaan begini pasti ingin makan banyak," katanya setengah berfalsafah.

Ya, lewat sepak bola dia mendapatkan segalanya. Gaji yang tinggi, fasilitas mewah, ketenaran, reputasi, dan kehormatan yang luar biasa. Semua itu dicapai oleh Hitzo melalui perjuangan keras dan penuh cobaan. Dia telah menggunakan hasrat dan kemauannya dengan maksimal.

Data Diri

Nama: Hristo Stoichkov
Panggilan: Hitzo
Tempat/Tanggal Lahir: Plovdiv, 8 Februari 1966
Zodiak: Aquarius
Tinggi/Berat: 178 cm/84 kg
Posisi: Gelandang menyerang/striker
Julukan: Nasty Boy, Protagonist, Naughty Boy, Nasty Streak, The Wayward Temperamental, Notorious Temper
Istri: Mariana
Idola: Michel Platini
Tokoh Berpengaruh: Dimitar Penev, Johan Cruijff
Kelebihan: Lari kencang, kaki kiri sangat kuat, spesialis bola-bola mati, Skill individu prima, naluri mencetak gol tinggi, semangat menyala-nyala
Klub: Hebros Harmanli (1976-78), Maritza Plovdiv (1978-84), CSKA Sofia (1984-90), Barcelona (1990-)
Debut Liga: Mei 1984 (CSKA Sofia)
Prestasi: Juara Liga Bulgaria 1987, 1989, 1990; Juara Piala Bulgaria 1987, 1988, 1989; Juara Liga Spanyol 1991, 1992, 1993, 1994; Juara Piala Spanyol 1990; Juara Liga Champion 1992; Juara Piala Super Eropa 1992; Semifinalis Piala Dunia 1994
Prestasi Pribadi: Pemain Terbaik Bulgaria 1989, 1990, 1991, 1992; Top Skore Liga Spanyol 1991 (36 gol); Top Skorer Piala Dunia 1994; Pemain Terbaik Eropa 1994.
Debut Timnas: September 1987 (vs Belgia 2-0)
Caps Timnas: 52 laga, 25 gol
Alamat: Futbol Club Barcelona, Avenue Aristides Maillol s/n 08028 Barcelona, Telp (93) 3309411; Bulgarski Futbolen Souls, ul. Karnigradska 19, 1000 Sofia, Telp (902) 877490/874725

Beberapa Falsafah Hidup
Hristo Stoichkov: Dicalonkan Menjadi Presiden
"Dunia menyukai orang-orang yang menang, oleh sebab itu tidak ada waktu untuk kalah."

"Dalam sepak bola tidak terlalu berarti dari mana gol itu bisa dicetak. Dari titik penalti atau permainan sama saja, yang penting bisa menghasilkan gol dan menang."

"Jangan sesekali mengecewakan fans, saya amat menghargai mereka bahkan merasa takut pada mereka."

"Setiap orang mempunyai karakter berbeda, begitu pula saya. Sungguh sulit untuk mengubah temperamen yang saya miliki, dan saya pun amat bangga dengan diri sendiri."

(foto: reuters/espnfc/novinite/marca/espnfc/es.besoccer.com) 


Share:

Hristo Stoichkov (4): Bertemperamen Khas Catalunya

Tidak ada yang bisa menyalahkan Hitzo menjadi seorang yang temperamental. Siapa pun paham, dia bukanlah seorang yang melankolis, tetapi koleris. Golongan orang ini bersifat berkepala panas, gairahnya mudah bangkit tapi mudah pula tenang jika lawan yang dihadapinya mengaku kalah.

Hristo Stoichkov: Bertemperamen Khas Catalunya

Namun di satu sisi, Hitzo juga seorang Aquarius, di mana faktor emosi atau perasaan memegang peranan penting dalam hidupnya. Ia sangat halus, peka sehingga mudah tersinggung atau naik darah. Awalnya publik Camp Nou begitu terkejut melihat Hitzo yang lebih panasan daripada masyarakat Catalunya sendiri.

Itu sangat bertolak belakang dengan yang digantikannya, Gary Lineker, yang dikenal gentleman, santun bin tenang bin adem. Bayangkan, selama berkarier di La Liga yang laganya keras dan kasar, penyerang nasional Inggris itu tidak pernah sekali pun dikenai kartu kuning, apalagi memprotes wasit.

Sifat ini sangat jauh berkebalikan dengan Hitzo. Belum juga tuntas di musim pertamanya membela Barcelona, dia sudah terkena skorsing selama dua bulan. Namun soal produktivitas, pemain bola terbaik yang dimiliki bangsa Bulgaria itu sama sekali tidak kalah.

Meski absen 10 laga akibat hukumannya itu, Hitzo masih tetap merebut gelar pencetak gol terbanyak La Liga pada 1991. Secara historis, ketajamannya mencetak gol bahkan melebihi sang suhu Johan Cruijff.

"Keterampilannya mengingatkan saya pada George Best. Namun modal penting yang dimiliki adalah temperamennya. Faktor ini amat signifikan jika Anda tampil di La Liga. Selain menjadi tolok ukur kebebasan, hal itu juga berguna untuk kesuksesan kariernya kelak," ujar Tony Bruins, asisten Cruijff, yang pertama kali menguji sifat Hitzo pada sebuah laga ujicoba.

Hristo Stoichkov: Bertemperamen Khas Catalunya

Benar, pada akhirnya suporter hanya akan melihat sisi terbaik di diri Hitzo. Salah satunya, misalnya, selalu tampil penuh semangat, Salah satunya, misalnya, selalu tampil penuh semangat, bergairah, ngotot lagi atraktif. Pendek kata pernah dia tak terlihat melempem. Di Spanyol, jika ada orang yang selalu main begitu, walaupun dia bukan bintang, maka dengan cepat dia akan dijadikan bintang klub oleh para pendukung.

Demikianlah ciri khas Hitzo yang menjadi stigma nyata di hadapan Cules, sebutan pendukung Barcelona. Standar bermain Hitzo lahir batin, dijadikan patokan dan dianggap mewakili kegairahan dan mentalitas masyarakat Catalunya. Luar biasa.

Dalam beberapa laga, Hitzo seringkali tampil kesetanan laksana banteng marah. Ada untung, ada ruginya pula. Kelemahannya jika sudah begitu adalah dia terbiasa menyalahkan wasit ketika aksinya dihentikan lawan dengan kekerasan.

Lho? Menurutnya para wasit kurang tegas menghukum pemain yang berusaha mencederainya. Kalau responsnya tidak memuaskan, maka Hitzo makin mencak-mencak dengan tensinya yang gampang membubung itu. Ketika wasit malah memberi dia kartu kuning padahal dirinya yang ditebas kasar, bisa dibayangkan reaksi berikut orang model begini jika tidak segera dilerai dan ditenangkan rekan-rekannya.

Hukuman dua bulan yang diterimanya datang dari skenario seperti ini. Sudah terkena kartu merah, wasit dihinanya habis-habisan secara mental dan juga fisik! Agaknya tekanan hidup sejak kecil di Bulgaria dengan rezim represifnya, sedikit banyak, berkontribusi membentuk karakter Hitzo seperti itu. Adil adalah isu strategisnya, dan Hitzo gampang menggila bila tidak ada keadilan.

Dalam sebuah laga El Clasico di pentas Piala Super Eropa, Januari 1991, Hitzo tak dapat menahan emosinya tatkala ditekel dengan keras oleh Miguel Chendo sampai terlempar ke luar lapangan. Inti drama muncul kemudian. Setelah wasit Urizar Azpitarte tidak memberi kartu kuning, seperti yang diharapkan Hitzo, apalagi peringatan pun tidak, yang dilakukan Hitzo di luar kesadaran manusia normal atau seorang atlet.

Hristo Stoichkov: Bertemperamen Khas Catalunya

Hitzo bangkit dan wasit Urizar langsung 'distempel' dengan sepatunya! Tak ayal, kartu merah pun mengacung ke udara. Koleksi tarjeta amarilla dan tarjeta roja Hitzo rada mencengangkan buat pria yang dipercaya sebagai Pemain Terbaik Bulgaria 1989, 1990, dan 1991.

Dan, sebanyak 90% koleksi itu terkumpul lantaran dia addicted melawan wasit. Jadi bukan karena ia main kotor atau suka menipu. "Saya berjanji tidak mengulanginya lagi. Saya ingin jadi anak baik," begitu dia selalu bilang ketika ditanya wartawan akibat pengusiran dirinya dari lapangan.

Anehnya, ucapan itu diulanginya setiap dia terkena kartu merah, begitu seterusnya. Saat kembali beraksi seusai masa hukumannya, Hitzo tak kapok memprotes wasit lagi. Ckkk ckkk, bukan main. Berkemauan keras, tekun, berjiwa bebas, optimistis, praktis, produktif, tegas dan berbakat jadi leader merupakan deretan kelebihan orang-orang koleris.

Superstar sepanjang masa, Diego Maradona, juga termasuk golongan ini. Kelemahan orang-orang tipe ini antara lain sarkastis, menguasai, tidak acuh, cepat bangga dan puas diri, serta tidak berperasaan. Nah dari yang terakhir inilah, Urizar jadi korban. Namun apa pun yang terjadi, penilaian objektif seperti performa dan kontribusi selalu mengubur urusan personal. Begitu juga yang ditunjukan Cules.

Mereka tetap menilai Hitzo lebih baik dari pada Maradona dan Mark 'Carrera' Hughes, yang bersama Lineker adalah para terdahulu Hitzo sebagai bomber Barcelona. Satu-satunya legenda El Barca yang mendekati Hitzo dalam hal temperamen dan karakter hanya Johan Cruijff, yang juga pelatihnya sekarang.

Pengaruh Cruijff

Cruijff, superlegenda sepak bola dunia, bangsa Belanda, bangsa Catalunya, dan FC Barcelona di era 1970-an sampai sekarang, juga punya rekor unik soal disiplin permainan. Seumur hidupnya merumput di La Liga, dia mengoleksi 22 kartu kuning dan kartu merah akibat memprotes wasit! Tak heran dia punya sebutan khusus dari para Cules yakni si 'methamorphosis'.

Hristo Stoichkov: Bertemperamen Khas Catalunya

Cules juga makin bahagia melihat adanya transfer knowledge dan transfer mentality dari Cruijff kepada Hitzo, guru ke murid terbaiknya. Kata pengamat dan beberapa opini media massa, Cruijff lagi menyulap Hitzo sebagai pemimpin moral Barca di lapangan hijau seperti dirinya dulu.

"Kalau mau bertahan di sini, pertahankanlah karaktermu itu," kata sang guru menasehati dengan serius. Benar masih ada pemain senior seperti Andoni Zubizarreta, Jose Bakero, Michael Laudrup, Gheorghe Hagi, Laurent Blanc, atau Ronald Koeman.

Tapi mereka itu semua tidak punya darah menggelegak sebagai modal menjadi pembela kebenaran, pemimpin, dan penjaga stabilitas dan kredibilitas tim layaknya Hitzo Di sisi sebaliknya, Hitzo juga makin 'mangkak' sebab selain Cruijff, Presiden Barca menjadi pelindung dan pembelanya. Berkat lobi sang bos, hukuman Hitzo kadang jadi ringan. Kebetulan karakter Josep Luis Nunez mirip-mirip dengannya, yakni gampang tersulut.

Hitzo sangat hormat pada Cruijff dan Nunez. Pesan Nunez yang masih terus diingat Hitzo adalah boleh kalah dari yang lain, asal jangan dari Real Madrid! Di awal hingga pertengahan 1990-an, eksistensi Hitzo di Barca lebih dari berkah. 

Kehadirannya amat diterima, bahkan dianggap jadi stimulan spirit Nunez dan Cruijff. Wajar bila kaum Cules sangat berharap poros Nunez-Cruijff-Hitzo mampu mengendalikan kapal Barca dengan baik di perairan La Liga yang berombak ganas dan dipenuhi pesaing.

Membantai Real 

Salah satu sisi positif keberadaan Hristo Stoichkov di Barcelona tak lain bangkitnya kembali mentalitas dan primordialisme, semangat kedaerahan, bangsa Catalunya, wilayah di mana klub berjuluk Azulgrana ini berada.

Hristo Stoichkov: Bertemperamen Khas Catalunya

Perseteruan abadi propinsi Catalunya dan propinsi Castilla, pusat kerajaan dan ibukota Spanyol, sudah berlangsung berabad-abad. Catalunya dulunya dikuasai kerajaan besar Aragon, namun pada 1469, setelah perkawinan Raja Aragon, Ferdinand II dengan Ratu Castilla, Isabella I, kedua kerajaan melebur menjadi satu, Kerajaan Spanyol.

Seiring perjalanan waktu, perkawinan politik itu justru merugikan bangsa Catalunya ke semua sektor kehidupan, sejarah, bahkan masa depan. Urusan sepak bola pun tak lepas dari dendam dan kebencian turun temurun. Barcelona adala simbol Catalunya (Aragon) dan Real Madrid ikon Castilla (Spanyol) pun tersaji di setiap laga mereka yang dinobatkan sebagai El Clasico.

Laga historis ini kadarnya bahkan melebihi Glasgow Celtic vs Glasgow Rangers, Boca Juniors vs River Plate, apalagi dengan AC Milan vs Napoli. Dalam kehidupan sosial politik di Spanyol, pendukung El Barca selalu membenci Real Madrid karena menganggap orang-orang Castilla itu arogan dan besar kepala serta lupa sejarah.

Urusan bukan lagi sepak bola atau permainan, tetapi politik dan harga diri. Real Madrid juga dimusuhi pendukung Athletic Bilbao, simbol perjuangan bangsa Basque. Barcelona dengan Bilbao relatif aman dan jarang konflik layaknya Catalunya dengan Basque.

Basque adalah sebuah wilayah yang sejarah atau asal muasalnya masih tidak jelas, meski ada yang berteori mereka berasal dari campuran bangsa Utara (Celtic dan Viking) dengan Afrika Utara (Moor dan Barbar). Rivalitas tujuh turunan Catalunya vs Castilla vs Basque juga yang menghancurkan tim nasional Spanyol lebih dari setengah abad.

Para pelatih nasional yang ditunjuk menangani La Furia Roja, julukan tim nasional Spanyol, pasti dibuat kelabakan mengatasi ini terutama saat memadukan para pemain dari ketiga klub tadi. Kegagalan Spanyol di tiga Piala Dunia terakhir, 1982, 1986 dan 1990 disebut-sebut karena tim Matador terlalu Real Madrid-sentris.

Hristo Stoichkov: Bertemperamen Khas Catalunya

Rombongan Madrid seperti Michel, Emilio Butragueno, Rafael Martin Vasquez, Manuel Sanchis seringkali mendominasi di kala harus menyatu dengan Jose Mari Bakero, Julio Salinas, Andoni Zubizarreta (Barca), Rafael Alkorta dan Genar Andrinua (Bilbao). Apapun yang tersaji jadi masalah.

Di Piala Dunia 1994, dua tahun setelah dipegang Javier Clemente, sinkronisasi di La Furia Roja lebih baik setelah rombongan Blaugrana lebih banyak dibandingkan Los Blancos. Apakah ini tanda-tanda solusi untuk tim nasional Spanyol? Entahlah. Kalimat bijak suka mengatakan demi kepentingan yang dampaknya lebih besar kita harus rela berkorban. Metode ini tidak jalan di Spanyol, yang seperti di kebanyakan di wilayah Eropa, sebenarnya mengakui dominasi.

Aura seperti ini harus terus diperkuat, seperti makin kuatnya Barcelona setelah duet Nunez-Cruijff menemukan missing link untuk masa depan Barca bernama Hristo Stoichkov. Seperti sudah bisa ditebak, kehadiran Hitzo beserta sikap dan sifatnya yang kelotokan itu pasti membuat sulit Los Blancos. Yup, tidak salah. 

Pada El Clasico 8 Januari 1994, Barca menguliti El Real 5-0 lewat hattrick Romario Faria dan dua gol Hitzo! Seperti yang pernah diungkap pada edisi terdahulu bahwa salah satu keputusan Nunez dan Cruijff merekrut Stoichkov adalah cara terbaik untuk menghentikan sepak terjang Real Madrid. "Sebelum resmi bergabung ke Barcelona, Cruijff sering menekankan ke saya bagaimana cara paling optimal bermain untuk Barca dan tujuan utamanya," kilah Hitzo suatu kali.

Sungguh suatu karunia bagi Barcelona dan juga Hitzo mana kala pertautan mereka membuahkan prestasi dan sejarah sekaligus, memenangkan La Liga selama empat musim beruntun, 1990/91, 1991/92, 1992/93, dan 1993/94.

(foto: jordimolina/novinite/marca/espnfc/es.besoccer.com) 

Share:

Hristo Stoichkov (3): Cruijff, Penev, dan Platini - Menginspirasi Jalan Hidupnya

Kerja keras, dedikasi dan obsesi akan membuat seseorang dengan mudah mencapai cita-cita hidupnya. Ini sebuah teori kesuksesan yang pernah dikatakan oleh industrialis kesohor Henry Ford. Semua faktor ini pun dimiliki oleh Hristo Stoichkov alias Hitzo. Bahkan ia mempunyai satu faktor lagi yaitu tokoh panutan. Siapa panutan Hitzo? Tak lain Michel Platini. Bintang Prancis ini amat mempengaruhi karier Hitzo. Segala kelebihan Platini dipelajarinya dengan seksama dan sungguh-sungguh. 

Hristo Stoichkov: Cruyff, Penev, dan Platini - Menginspirasi Jalan Hidupnya

Namun di balik itu, ia menyadari bahwa untuk menjadi Platini di Bulgaria sendiri amatlah sulit. Apalagi saat itu stabilitas di negerinya sedikit terusik, sebagai dampak runtuhnya komunisme. Untungnya Hitzo tak mau ambil pusing. Ia teringat kembali cita-citanya sejak kecil: tidak mau menjadi politisi kecuali pemain bola. 

Keuntungan kedua: ia bermain di CSKA Sofia, klub yang dimiliki AD Bulgaria. Hitzo amat dipandang meski nyaris dipecat akibat jadi biang kerok kerusuhan di sebuah laga prestisius. Namun usai mengantarkan CSKA menjuarai Soviet Army Cup di Moskow, bersama Emil Kostadinov dan Luboslav Penev, Hitzo makin dihormati.

Kehormatan ketiganya membubung mengingat yang dikalahkan CSKA di final adalah Chernomorets, kesebelasan tuan rumah, dan laga tersebut dijejali puluhan ribu tentara. Di Bulgaria, CSKA Sofia dan Levski Spartak merupakan klub paling mapan dan terpandang sehingga apapun yang terjadi di dalam tubuh mereka menjadi perhatian orang.

Kedua klub pun tidak rontok, bangkrut ataupun bubar setelah angin kebebasan melanda Bulgaria. Sementara klub lainnya kacau balau, para pemainnya keseringan mangkir latihan sebab konsentrasinya terganggu atau malahan ikutan demo. Beberapa pemain CSKA juga demikian.

Namun Hitzo tidak mau. Ia tidak peduli dengan kondisi sebab yang melulu dipikirkan cuma sepak bola dan sepak bola, plus hasrat terdalamnya ingin menjadi pesepak bola di luar negeri. Hanya ini. Lambat laun saat-saat manis pun tiba. Trio Hitzo, Lubo dan Emil mengantarkan CSKA menjuarai Liga Bulgaria pada 1989.

Prestasi ini dipercantik oleh gelar pribadi yang diraih Hitzo sebagai pencetak gol terbanyak dan Pemain Terbaik Bulgaria 1989. Tak ayal, dua penghargaan ini menjadi modal kuat Hitzo untuk meraih cita-citanya. Ketika diwawancara usai acara penghargaan, tanpa sungkan Hitzo menyatakan keinginannya untuk bermain di Barcelona atau Juventus serta menyebut La Liga dan Serie A sebagai kompetisi terbaik di dunia. "Saya amat tertantang bermain di sana," kilahnya di depan para wartawan.

Impian Terkabul

Keberuntungan Hitzo semakin mendekat ketika CSKA Sofia lolos ke semifinal Piala Winner setelah mengatasi Roda JC Kerkrade. Lalu lawan berikut yang harus dihadapi adalah tim yang dilatih oleh maestro Johan Cruijff: Barcelona! Tanggal 5 April 1989 dikenang Hitzo sebagai hari bersejarahnya, sebab untuk pertama kalinya dia tampil di Camp Nou. Hatinya sempat menciut, dadanya pun bergetar tidak karuan tatkala kakinya melangkah menginjak rumput Camp Nou yang disaksikan oleh hampir 100.000 pasang mata penonton.

Di stadion itu Hitzo merasakan dan melihat langsung permainan Ronald Koeman, Michael Laudrup atau Gary Lineker serta teriakan Cruijff dari tepi lapangan. Sama seperti rekan-rekannya, ada perasaan minder kala menyadari kostum mereka yang tanpa merek dan titel iklan. Sangat kontras dengan seragam tuan rumah.

Hristo Stoichkov: Cruyff, Penev, dan Platini - Menginspirasi Jalan Hidupnya

Beruntung CSKA punya pelatih berkarakter di diri Dimitar Penev. Dia segera membesarkan hati anak buahnya, terutama tiga bintang andalannya, Hitzo, Emil Kostadinov serta Luboslav Penev yang juga keponakan sang pelatih. "Pikirkan bagaimana caranya mencetak gol. Ingat, hanya itu!" hardik pelatih Penev. Suntikan moral berhasil sebab secara mengejutkan Hitzo mencetak gol yang membuat CSKA sempat unggul 1-0. Bahkan kemudian dua gol dibuat Hitzo.

Namun faktor kualitas dan pengalaman yang dimiliki tim Blaugrana sulit diatasi CSKA. Barcelona akhirnya menang 4-2. Seperti yang diduga, publik Camp Nou terkesima oleh penampilan Hitzo, terlebih-lebih Cruijff! Lewat penglihatan dari mata yang sehat aksi Hitzo jauh lebih bagus dari Laudrup atau Lineker yang berposisi sama dengannya. 

Tanpa harus diketahui Hitzo, Cruijff kemudian memang berkonsultasi dengan presiden klub, Josep Luis Nunez, membahas pemain bernama Hristo Stoichkov. Pada intinya, mereka tertarik untuk mencoba bakat Hitzo. Ada strategi mendalam dari Cruijff dan Nunez, di mana Hitzo jadi bagian dari skenario besar Barcelona untuk menyudahi dominasi Real Madrid di La Liga sejak 1986. Pada Juni 1990 Hitzo resmi dikontrak Barca dengan nilai transfer 1,5 juta pound atau hampir 5 milyar rupiah dengan kurs saat itu. 

Memang harga Hitzo kalah jauh dari bintang Eropa Timur lain seperti Dragan Stoijkovic (Yugoslavia) yang dibeli Olympique Marseille dari Red Star senilai 6,7 milyar rupiah, atau Gheorghe Hagi (Rumania) dari Steaua Bucuresti ke Real Madrid seharga Rp 5,5 milyar.

Hristo Stoichkov: Cruyff, Penev, dan Platini - Menginspirasi Jalan Hidupnya

Namun kedatangan Hitzo di Barcelona memakan korban. Posisi Gary Lineker di ujung tanduk. Usai mengantarkan Barcelona menjuarai Piala Winner 1990, penyerang nasional Inggris itu malah terlempar pada skuad 1990/91. "Dia tidak bisa dipertahankan. Tipe permainannya tidak cocok dengan strategi yang saya pasang sekarang," begitu Cruijff beralasan.

Mirip Dengan Cruijff

Bergabungnya dia ke klub dambaan sejak muda membuat Hitzo tidak akan bisa melupakan jasa Johan Cruijff seumur hidupnya. Tanpa Cruijff barangkali Stoichkov pernah tidak ada di Barca, dan sulit menggapai karier profesionalnya. Walau pada dasarnya punya naluri 'membunuh' yang bikin kecut lawan, berkat bimbingan Cruijff - bintang Barcelona di akhir 1970-an - karakter permainan Hitzo menjadi lebih terarah dan optimal.

Hristo Stoichkov: Cruyff, Penev, dan Platini - Menginspirasi Jalan Hidupnya

Sedikit banyak terdapat persamaan watak antara Cruijff dengan Hitzo, sama-sama temperamental, meledak-ledak, tukang protes wasit sehingga gampang terkena kartu kuning. "Siapapun orangnya kalau berbuat salah atau bermain buruk, saya tidak pernah mengistimewakan pemain saat berlatih," tegas legenda nomor satu sepak bola Belanda ini.

Jika dirunut ke belakang, maka boleh jadi Hitzo beruntung dua kali karena memiliki dua pelatih berbeda namun berkarakter mirip: Dimitar Penev di CSKA dan Johan Cruijff di Barcelona. Pernah sekali waktu Hitzo mangkir latihan karena sesuatu hal. Cruijff, lelaki flamboyan kelahiran 25 April 1947, hanya berkata singkat, "Kalau kau mau, besok pun kau boleh meninggalkan Barcelona."

Pada 1993, ketika Napoli berhasrat untuk merekrut Hitzo untuk menggantikan Gianfranco Zola yang hengkang ke Parma, Cruijff juga memberi kebebasan pada Hitzo. "Tanya pada dia, pilih Barcelona atau kariernya akan habis," tukas Cruijff dengan gaya khasnya. Nyatanya hingga kini Hitzo masih tetap di Barcelona.

(foto: jordimolina/novinite/ap/pinterest/es.besoccer.com/novsport)

Share:

Hristo Stoichkov (2): Biang Kerok Tapi Sukses

Rakyat Bulgaria adalah pencinta fanatik sepak bola. Di sana, sepak bola dianggap sebagai olah raga nasional. Awal 1960-an bisa dibilang sebagai awal kebangkitan pigskin (sepak bola) negeri yang pernah dijajah Turki ini. Pada masa itu mereka telah mempunyai seorang bintang yang bernama Georgi Asparoukhov.

Hristo Stoichkov: Biang Kerok Tapi Sukses

Konon ketika diadakan angket tidak resmi oleh Komisi Sentral Partai Komunis pada suatu daerah di bagian kota Plovdiv, 75 persen anak laki-laki bercita-cita ingin seperti Asparoukhov, sebagai pemain bola yang jadi pahlawan bangsa. Sisanya mau jadi tentara atau politisi. Diantara yang 75% inilah terdapat Stoichkov. Seperti perjalanan hidup pemain besar lainnya, karier Stoichkov pun diawali sejak masa kanak-kanak. 

Ia dilahirkan di Plovdiv, wilayah selatan Bulgaria pada 8 Februari 1966. Ketika memasuki umur 10 tahun, Stoichkov yang kala itu dipanggil 'Hitzo' oleh teman-temannya, sudah terdaftar sebagai pemain bola belia pada klub lokal Hebros Harmanli.

Meski mendapat tentangan dari orang tuanya, yang lebih ingin ia berkonsentrasi pada sekolah, bocah berkaki kidal ini tetap saja nekat mengikuti audisi, lolos, dan akhirnya menjalani pelatihan hari demi hari, minggu demi minggu. Bulan berganti bulan, musim berganti musim, tahun berganti tahun.

Dasar berbakat, kemajuan yang diperoleh Hitzo membuat pengurus klub itu berdecak kagum. Mulai saat itu kedua orang tuanya menyadari bahwa bakat sang anak ternyata di sepak bola. Ketika berumur 12 tahun, si bocah berambut ikal pindah ke klub yang lebih besar, Maritza Plovdiv. Ia pun mulai mengikuti kompetisi junior divisi tiga.

Hristo Stoichkov: Biang Kerok Tapi Sukses

Tahun 1984 rombongan pencari bakat dari klub CFKA Sredets melihat permainan Hitzo, yang bermain sebagai striker. Mereka segera melaporkannya pada Dimitar Penev, sang pelatih kepala. Tak lama kemudian diundangnya untuk mengikuti audisi langsung. "Pertama kali melihat dia saya langsung tertarik. Anak itu punya sikap ekstrem namun justru karena faktor itu suatu saat ia akan memberi keuntungan pada kami," kenang Penev.

Hukuman Pertama

CFKA Sredets adalah salah satu klub besar di Bulgaria yang menjadi rival sekota Vitosha. Angin pembaharuan, usai robohnya Tembok Berlin, Gerakan Glasnost dan Perestroika, juga menerpa Bulgaria. Walhasil pada 1989 CFKA Sredets berganti nama menjadi CSKA Sofia. Vitosha pun berganti merek menjadi Levski Spartak.

Rivalitas Sredets vs Vitosha mendominasi atmosfir kompetisi Liga Bulgaria selama puluhan tahun, sejak digelar pertama kali pada 1924. Hingga tahun 1990, atau saat terakhir dibela Hitzo, CFKA Sredets/CSKA Sofia telah 26 kali menjadi penguasa negeri. Sedang Levski 18 kali.

Bagi Hitzo sendiri, masuk klub sebesar CSKA dianggapnya sesuatu yang luar biasa. Saking senangnya dia menggondol semua barang kesayangannya sejak kecil ke asrama CSKA. Baginya CSKA adalah rumah barunya. "Dengan masuk klub ini saya berharap bisa sebesar Michel Platini," ungkapnya waktu itu. Platini, bintang top Prancis, adalah idolanya Hitzo.

Hristo Stoichkov: Biang Kerok Tapi Sukses

Insting Penev mulai mendatangkan hasil. Karakter Hitzo yang gampang meledak-ledak itu memang terkadang menguntungkan tim, namun sering pula merugikan. Positifnya, ia dianggap tokoh protagonis yang sanggup memicu tensi dan memacu semangat rekan-rekannya dalam setiap laga. Mengingat CSKA adalah klub Angkatan Darat, karakter ala Hitzo memang dibutuhkan.

Namun wewenang yang diberikan pelatihnya itu pernah disalah-gunakan. Sesuatu yang negatif, namun tidak akan mengubah takdir Hitzo sebagai pemain hebat Bulgaria. Peristiwanya terjadi di laga derby melawan Levski di final Piala Liga Bulgaria 1985. Lantaran terlalu bersemangat mengobarkan spirit bertanding kepada teman-temannya, Hitzo dianggap sebagai biang kerok kerusuhan di lapangan.

Dalam laga panas tersebut, Hitzo dan dua orang rekannya diganjar kartu merah. Laga itu sungguhan berakhir rusuh, di dalam lapangan antar sesama pemain, maupun di luar stadion yang melahirkan pertikaian antar pendukung.

Hristo Stoichkov: Biang Kerok Tapi Sukses

Derita Hitzo tambah berat sebab BFU (PSSI Bulgaria) menjatuhkan vonis pada Hitzo, yang masa hukumannya tidak jelas sampai kapan. Tapi dasar dikenal sebagai pemain bagus, Hitzo dan dua rekannya yang sedang menjalani masa hukuman ini akhirnya mendapat pengampunan. Banyak pengamat dan media massa sepakat kualifikasi Piala Dunia 1986 jauh lebih penting daripada melarang ketiga pemain, termasuk Hitzo, tidak boleh main bola. BFU pun melunak.

Seperti Masinis

Tim nasional bukan tempat asing bagi Hitzo. Ia memulai debut di tim nasional ketika ia ditarik masuk ke dalam tim nasional U-21 yang sedang dipersiapkan ke Olimpiade 1984 di Los Angeles. Selama di timnas junior, Hitzo membela negaranya 23 kali.

Sementara di tim nasional senior, debutnya terjadi pada September 1987 ketika Bulgaria bertemu Belgia di penyisihan Piala Eropa 1988. Hitzo tampil 66 menit untuk menggantikan Iordan Iordanov yang tiba-tiba cedera. Hitzo sukses sebab Bulgaria menang 2-0 atas Eric Gerets dkk.

Publik dan media massa tak melupakan permainan menawan Hitzo. Ia begitu nyetel dengan dua rekannya yang sebelumnya sama-sama dihukum BFU, Emil Kostadinov dan Luboslav Penev. Semua merasa bersyukur atas keputusan memaafkan Hitzo dkk.

Trio penyerang  SKP (Stoichkov-Kostadinov-Penev) ini ditakuti lawan, bukan saja di seantero negerinya tapi juga di sebagian bumi Eropa dan sanggup mengangkat reputasi CSKA di kompetisi Eropa akhir 1980-an. Kelak sepak terjang trio ini pula yang bikin bangsa Prancis menangis gegerungan akibat tersingkirnya Eric Cantona, David Ginola dkk, di detik-detik terakhir laga kualifikasi Piala Dunia 1994.

Hristo Stoichkov: Biang Kerok Tapi Sukses

Prancis kalah 2-3 akibat gol sensasional Kostadinov sehingga gagal lolos ke AS. "Kalau tim ini dianggap sebagai kereta api, maka Kostadinov dan Penev itu lokomotifnya. Akan tetapi yang menjadi masinisnya adalah Stoichkov," ujar pelatih Dimitar Penev yang tak pernah melupakan kesan awalnya pada Hitzo.

Kabar meroketnya trio SKP atau tiga serangkai CSKA sampai juga di telinga para pemburu bakat untuk klub-klub top Eropa. Mereka segera mengirim tim pemantau yang misi utamanya adalah mendapatkan Hristo Stoichkov, tokoh kunci permainan CSKA.

Ayah Keduanya

Tak syak lagi, Dimitar Penev adalah orang yang paling berjasa dalam karier Hristo Stoichkov di sepak bola, semenjak muda hingga menjadi pemain yang disegani. Hubungan pria kelahiran Milovane 12 Juli 1945 ini dengan Hitzo tak melulu lazimnya antar pelatih dengan pemain, namun juga selayak hubungan ayah dengan anak.

Hristo Stoichkov: Biang Kerok Tapi Sukses

Komitmen Penev pada Hitzo seolah-olah tiada batas. Pada 1989, dia pula yang memperjuangkan Hitzo agar bisa main di luar negeri. Penev harus adu kencang urat leher dengan seorang petinggi BFU yang berusaha mencegah pemain terbaik Bulgaria memperkuat klub asing. Tokoh dari BFU ini akhirnya sadar. Seharusnya malah Penev orang pertama yang mencegah transfer Hitzo mengingat dia adalah pelatih CSKA. Bukankah hengkangnya Hitzo akan berdampak bagi kekuatan timnya Penev sendiri?

Walau temperamental dan terkesan sebagai trouble-maker di tim asuhannya, uniknya Penev tak pernah sekalipun mengecam Hitzo. Dalam berhubungan dengan pemain andalannya itu, Penev memakai asas saling respek. Dia tak mau mencampuri urusan pribadi sampai tingkah polah sebatas itu di luar lapangan. Sebaliknya, Hitzo juga sangat respek terhadap gurunya ini dalam banyak hal, terutama yang berhubungan langsung dengan sepak bola.

Bagi Penev semua urusan jadi beres ketika di lapangan Hitzo berhasil menerapkan atau menjalankan strategi yang diinginkannya. Sesepele itu. Bukan hanya itu ia membela Hitzo. Ketika menjalani masa hukuman BFU dampak dari kerusuhan pertandingan melawan Levski, Penev pernah nekat tetap memasukkan nama Hitzo ke dalam skuadnya.

Ada alasan yang tak pernah diungkap gamblang oleh Penev kenapa dia berbuat nekat seperti itu. Namun secara tersirat kebutuhan besarnya pada Hitzo pernah dikatakannya suatu hari. "Dari jejeran pemain elite dunia, Hitzo berdiri di tengah-tengahnya," cetusnya waktu itu.

Tampaknya ketergantungan Penev pada Stoichkov begitu kuat, sama kuatnya pentingnya Penev bagi Stoichkov. Suatu saat nanti waktu jua yang menjawab dengan kongkrit buah dari hubungan simbiosis-mutualisma mereka.

(foto: footballnotballet/bulgaria-italia.com/stoichkov8.com/webcafe/senzacia)

Share:

Hristo Stoichkov (1): Ibarat Bisul Pecah

Teka-teki siapa yang akan menjadi pemain terbaik Eropa 1994 terjawab sudah. Hristo Stoichkov-lah bintangnya. Ia pantas diacungi jempol atas prestasinya itu, mengingat persaingan antarpemain di Eropa sangatlah ketat. Bagaimana gelandang menyerang tim nasional Bulgaria dan klub Barcelona (Spanyol) ini mencapai prestasi puncak? Mulai di edisi ini, kisah hidup dan perjalanan kariernya dituturkan.

Hristo Stoichkov: Ibarat Bisul Pecah

Sungguh tidak mudah menjadi yang terbaik di Eropa. Siapapun orangnya, semahal apapun, kalau tidak berprestasi secara khusus atau fenomenal, jangan harap dinobatkan sebagai yang terbaik. Terlebih lagi bagi mereka yang berasal dari Eropa Timur. Ini perlu dimaklumi. Soalnya dibanding belahan Eropa lainnya, pemain yang berasal dari negara-negara Blok Timur biasanya akan kurang diperhatikan jika bermain di klub-klub negara mereka sendiri.

Penguasaan media baik cetak maupun visual di negara-negara Eropa Barat menjadi salah satu sebab. Maka, beruntunglah Stoichkov, yang didukung obsesi dan juga karakternya, dapat menembus dogma seperti itu. Yang perlu dicatat, dengan prestasi itu pemain berusia 28 tahun ini juga mengembalikan lagi kejayaan pemain Blok Timur.

Delapan tahun belakangan ini, Blok Timur bak anak tiri di lingkup UEFA (Persatuan Sepak Bola Eropa). Kali ini, lewat pemilihan yang dianggap representatif, Stoichkov berhasil menyisihkan saingan terdekatnya, Roberto Baggio (Italia/Juventus) dan Paolo Maldini (Italia/AC Milan).
Hristo Stoichkov: Ibarat Bisul Pecah

Pemilihan yang diorganisasi oleh majalah sepak bola ternama di Eropa, France Football, ini dilakukan oleh 49 wartawan sepak bola Eropa dan bisa jadi lebih obyektif ketimbang pemilihan pemain terbaik dunia versi majalah World Soccer yang melakukan pemilihan lewat pembacanya

Puncak Karier

"Ini merupakan impian saya sejak kecil dan ketika menjadi pemain profesional. Sejajarnya nama saya dengan Johan Cruijff, Michel Platini, dan Jean-Pierre Papin adalah hal yang luar biasa bagi diri saya," ungkap Stoichkov di Paris usai menerima trofi penghargaan, akhir Desember 1994. Dengan bangga ia mengatakan bahwa penghargaan ini dapat dianggap sebagai puncak karier hidupnya di sepak bola.

Dalam kurun waktu hampir dua puluh tahun ternyata baru tiga pemain Eropa Timur yang terpilih sebagai pemain terbaik, termasuk Stoichkov. Dua sebelumnya berasal dari negara yang sama (Uni Soviet) dan klub yang sama (Dynamo Kyiv). Pertama adalah Oleg Blokhine (1975), dan yang kedua Igor Belanov (1986). Untuk Stoichkov sendiri prestasi ini jelas dianggap fenomenal, tidak saja oleh dirinya tapi juga oleh bangsa Bulgaria.

Stoichkov adalah orang pertama Bulgaria yang terpilih menjadi pemain terbaik Eropa sejak federasi sepak bola negara itu berdiri pada tahun 1924. Apa kriteria terpilihnya Stoichkov? Ada tiga faktor utama. Pertama, bangkitnya persepak bolaan Eropa Timur sejak Wind of Change dikumandangkan awal 1990-an. Buntutnya bisa dilihat sekarang bagaimana bangkitnya Rusia, Rumania, Bulgaria, Kroasia, Cekoslowakia bahkan Moldova di kancah sepak bola Eropa.

Kedua, kontribusi yang diberikan pada klubnya beberapa tahun belakangan. Sejak ditransfer dengan harga 2 juta poundsterling (sekitar Rp 6 milyar) pada 1990 lalu, Stoichkov selalu berperan dalam mengantar klubnya itu menjuarai La Liga empat kali berturut-turut 1991-1994, termasuk di Piala Champion.

Terakhir adalah kiprah di Piala Dunia 1994 dengan mengantarkan negaranya ke semifinal setelah menumbangkan juara bertahan Jerman. Eksistensinya kian dalam karena ia juga tercatat sebagai pencetak gol terbanyak bersama Oleg Salenko (Rusia). 

Wajarlah jika Stoichkov memetik hasil dari jerih payahnya selama ini. "Saya tidak kaget kalau ia (Stoichkov) yang terpilih," kata Baggio seusai pemilihan. "Ia sangat pantas untuk mendapat penghargaan seperti itu." Bagi Stoichkov, penghargaan ini ibarat bisul yang akhirnya pecah. Bayangkan, di dua tahun terakhir, 1992 dan 1993, ia disisihkan Marco van Basten dan Baggio yang sempat membuatnya mangkel.

"Milan dan Barcelona sama-sama juara liga. Tapi saya lebih pantas terpilih karena sayalah pencetak gol terbanyak dan mengantarkan klub saya menjuarai Eropa," protes Stoichkov setelah Van Basten yang menang. Tahun berikutnya giliran Baggio yang menyisihkannya. Sekarang Stoichkov bisa melupakan hari-hari dendamnya itu. Perasaan peka yang dimilikinya sudah memaafkan hal-hal yang pernah dibencinya.

Piala Dunia 1994

Piala Dunia 1994 bagi Bulgaria sepertinya membawa berkah. Selain prestasi fenomenal dengan mencapai semifinal, atau terpilihnya Stoichkov menjadi pemain terbaik Eropa 1994, ternyata ada penghargaan lain yang mengangkat harkat negara berpopulasi 9 juta jiwa ini. Apa saja?

Pertama, pelatih Dimitar Penev dinominasikan majalah World Soccer sebagai pelatih terbaik dunia ketujuh setelah Carlos Alberto Parreira (Brasil), Fabio Capello (Milan), Alex Ferguson (Manchester United, Arrigo Sacchi (Italia), Kevin Keegan (Newcastle United) dan Anghel Iordanescu (Rumania). 

Lalu tim nasional Bulgaria sendiri juga kecipratan berkah. Menurut daftar peringkat yang dikeluarkan FIFA 20 Desember 1994, semifinalis Piala Dunia di AS ini meloncat 15 tingkat dari posisi 31 ke posisi 16. Belum lagi ranking yang disusun World Soccer yang menganggap Bulgaria sebagai tim terbaik keenam di dunia setelah AC Milan, Brasil, Manchester United, Italia, dan Juventus. Yang lain? Masih menurut World Soccer, Stoichkov juga dipilih sebagai pemain terbaik dunia nomor lima.

Masih lumayan karena di bawahnya terdapat pemain kelas kakap macam Franco Baresi, Gabriel Batistuta, Eric Cantona, Juergen Klinsmann dan Tomas Brolin. Sedang di atasnya, Paolo Maldini, Roberto Baggio, Romario Faria dan Gheorghe Hagi.


Sebenarnya berbagai penghargaan tak asing bagi pemain yang punya naluri 'pembunuh' ini. Golden Boot Award alias pencetak gol terbanyak di Eropa 1990 pernah direnggut, dan selama empat tahun (1989-1992) ia juga dinobatkan sebagai pemain terbaik Bulgaria.

Kalau saja Barcelona tidak kalah 1-2 dari Sao Paulo di final Piala Toyota 1992, barangkali Stoichkov sudah terpilih pemain terbaik pertandingan (man of the match) dengan gol yang dilesakkannya. Tapi sayangnya dua gol balasan dari Rai Souza De Oliveira memupus harapan itu. Gol semata wayang untuk Barcelona begitu indah mencocor pojok kanan gawang Zetti, kiper Sao Paulo, yang hanya bisa terpana menyaksikan. Stoichkov menghantam dengan tendangan kaki kirinya yang terkenal keras.

Kini kekecewaan sudah terhapus. Akhirnya Stoichkov puas dengan prestasi puncak sebagai yang terbaik di Eropa. Ya, Piala Dunia 1994 ternyata membawa nasib Stoichkov menjadi terang benderang.

(foto: mundodeportivo/colgadosporelfutbol/forzaitalianfootball)

Share:

Artikel Populer

Maurizio Sarri: Tantangan Baru Si Mantan Bankir

Buat tifosi Napoli yang militan dan fanatik, begitu melihat jagoannya cuma meraup dua poin dari tiga laga jelas bikin dongkol selain gundah...

Arsip

Intermeso

Wawancara

Arsip

Artikel Terkini